
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis sepuluh calon gubernur dan wakil gubernur yang memenangkan Pilkada serentak 2018 versi quick count atau hitung cepat.
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA Toto Izul Fatah mengatakan, persentasi kemenangan quick count di sepuluh Pilkada serentak pada 27 Juni 2018 yang baru saja selesai merupakan momen yang penting tidak saja bagi rakyat dalam berdemokrasi, tapi juga penting buat sejumlah lembaga survei, termasuk LSI Denny JA.
"Terutama, dalam kontek pertaruhan kredibilitas dan record akademis yang harus dipertanggungjawabkan kepada publik, antara lain melalui publikasi hasil quick count yang akurat," kata Toto dalam keterangan persnya, Sabtu (30/6/2018).
Toto membenarkan , LSI Denny JA merupakan lembaga survei yang paling banyak menggelar quick count pada Pilkada serentak 2018 ini, dengan mengumumkan kepada seluruh rakyat Indonesia kemenangan para calon gubernur dan wakil gubernur di sepuluh provinsi se-Indonesia.
"Pengumuman ini dilakukan LSI Denny bukan dalam rangka gagah-gagahan, tapi sekali lagi, lebih dalam rangka pertanggungjawaban akademis, moral sekaligus professional, bahwa yang kita lakukan melalui quick count ini tidak asal-asalan. Tidak karena pesanan dan lain-lain," paparnya.
Menurut Toto, terlalu beresiko bila sebuah kerja ilmiah seperti quick count dibuat asal-asalan, apalagi tergantung pesanan. Sebab, bukan saja masa depan hidup mati lembaga yang harus dipertarungkan, tapi juga tanggung jawab akademisnya kepada publik. Paling tidak, lanjut dia, dari lebih 200 kali LSI Denny JA melakukan quick count, belum pernah sekalipun meleset.
Bahkan, ada yang sampai selisih 0,0% hasilnya dengan KPUD, yakni di Sumbawa Barat pada 2012 lalu.
Toto menyebutkan, quick count ke 10 provinsi yang dimaksud, adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selasan, Nusa Tengara Barat (NTB), Maluku, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan dan Sumatera Utara.
Adapun presentasi kemenangan dan tingkat partisipasinya pertama, pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum dengan suara 32,98%, dan Golput 30,86% di Provinsi Jawa Barat. Kedua, pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin dengan hasil suara 58,26%, dan Golput 35,47% di Pilgub Jateng.
Sementara gubernur dan wakil gubernur baru juga berada di Provinsi Jawa Timur dengan kemenangan pasangan Khofifah-Emil Elestianto Dardak dengan suara 54,29%, dan Golput 34,49%. "Keempat, Sulawesi Selatan dengan kemenangan pasamgan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman dengan 42,92%, dan Golput 27,41%)," ujarnya.
Sementara, hasil Pilkada serentak 2018 juga mendapatkan gubernur dan wakil gubernur baru berdasarkan hasil perhitungan cepat LSI Denny JA di Provinsi NTB dengan kemenangan pasangan Zulkieflimansyah-Siti Rohmi Djaillah dengan meraup suara 30,84%, dan Golput 24,15%.
Berikutnya, gubernur dan wakil gubernur yang baru berada di Provinsi Maluku, pasangan Murad Ismail-Barnabas Orno berhasil menjadi pemenang dengan hasil suara 40%, dan Golput 25,27%. Sehingga, menjadikan gubernur dan wakil gubernur keenam yang baru berdasarkan hasil quick count LSI Denny JA.
"Ketujuh, ada di Kalbar pasangan Sutarmadji-Ria Norsan dengan suata 56,9%, dan Golput 17,41%. Sementara gubernur dan wakil gubernur kedelapan yang baru berada di Provinsi Kaltim dengan pasangan Isran Noor- Hadi Mulyadi yang berhasil meraup 31,30%, dan Golput 40,28%," imbuhnya.
Selanjutnya, pasangan gubernur dan wakil gubernur yang baru berada di Provinsi Sumsel dengan kemenangan pasamgan Herman Deru-Mawardi Yahya yang berhasil meraup kemenangan sebesar 35,28%, dan Golput 30,17%.
"Provinsi kesepuluh adalah Sumatera Utara yang mendapatkan gubernur dan wakil gubernur yang baru. Yakni pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah dengan suara 57,12%, dan Golput 34,65%," tandasnya.
Menurut Toto, kesepuluh provinsi ini telah mempresentasikan kemenangannya yang telah diumumkan setelah data seluruhnya masuk hingga 100 persen. Secara umum, perolehan suara masing-masing pasangan calon, tak ada yang mengagetkan jika dibandingkan dengan, rata-rata dua kali survei yang dilakukan sebelumnya oleh LSI Denny JA.
Kecuali, sambung Toto, untuk wilayah-wilayah tertentu yang persaingannya memang cukup ketat seperti Jawa Barat, Jawa Timur dan Sumatera Utara.
"Secara umum, potensi kemenangan itu sudah terpotret dua sampai sebulan sebelumnya. Memang terjadi dinamika yang ketat dalam H-1 bulan sampai H-2 Minggu. Tentu, dalam sisa waktu itu selalu terjadi migrasi suara, tergantung kecerdasan masing-masing pasangan dan timnya untuk memanfaatkan peluang waktu tersisa. Terutama, dalam wilayah wilayah yang masih tinggi soft supporter-nya," jelas Toto.
Ia mencontohkan, seperti di Pilgub Jawa Barat, dimana Ridwan Kamil muncul sebagai pemenangnya versi quick count sejumlah lembaga survei, termasuk LSI Denny JAm Secara umum tak ada kejutan yang berarti dari kemenangan pasangan Rindu ini. Pasalnya, berbagai lembaga survei sudah memotret kemenangannya dari satu atau dua bulan sebelumnya.
"Memang terjadi kenaikan cukup signifikan dari pasangan nomor urut 4, Sudrajat-Ahmad Syaikhu, dari sebelumnya 8,9% melesat ke 28,05%. Namun, dari hasil analisisnya, kenaikan signifikan pasangan Asyik ini diduga lebih karena pasangan ini dapat limpahan berkah suara terbanyak dari kemerosotan dua pasang lainnya, yakni Rindu yang Ridwan Kamilnya diserang isu LGBT dalam H-1 bulan dengan cukup massif, dan Dua DM, yakni Dedi Mulyadi aebagai wakil diserang isu dukun dan fatwa ulama Purwakarta yang juga cukup massif," imbuhnya.
Disamping itu, Toto menerangkan bahwa tak bisa dipungkiri adanya faktor sumbangan kemasan program yang cerdas dan massif dari pasangan Asyik. Terlebih mesin partai PKS sampai ke aneka testimoni sejumlah tokoh agama yang terang-terangan mengajak memilih pasangan nomor urut tiga ini.
"Kenapa limpahan suara lebih banyak ke Asyik, tidak ke pasangan Hasanah nomor urut 2? Itu lebih karena pasangan Asyik dianggap yang paling minimal resistensinya ketimbang Hasanah," sambungnya.
"Kalau melihat dari tracking survei LSI pada Maret dan Juni, kedua pasang, Rindu dan Dua DM ini memang mengalami tren penurunan. Rindu yang pada Maret 39% dan turun pada Juni ke 38%, lalu turun lagi ke 32% pada quick count kemarin. Begitu juga Dua DM yang andalan pengumpul suaranya ada di Dedi Mulyadi, karena Deddy Mizwar sudah mentok, terjadi penurunan cukup drastis karena dua isu tadi," ungkapnya.
Toto menambahkan, bahwa bila merujuk pada data survei, sekali lagi, siapa yang potensial menang dan kalah itu sudah bisa diprediksi. Meski demikian, soal terjadinya kasus kenaikan dan penurunan suara masing-masing calon pasti ada sebab dan alasannya yang logis seperti kasus Jawa Barat.
Ia menilai, biasanya hasil survei berbeda dengan hasil quick count karena dua faktor. Pertama, terjadi money politics. Kedua, jika ada tsunami politik seperti terkena kasus hukum dengan ditangkap KPK, isu perselingkuhan, serangan negative campaign terhadap personal figur dan lain-lain.
"Namun, semua itu akan sangat tergantung kepada seberapa publik tahu dan yakin terhadap isu tersebut," tandasnya.






No comments:
Post a Comment