Cochrane Indonesia diluncurkan di UGM, Senin, 5 Maret 2018. Layanan kesehatan di Indonesia pun bisa mengakses beragam informasi medis yang dipercaya dan diakui oleh World Health Organization (WHO).
Cochrane merupakan lembaga yang menghasilkan bukti ilmiah terpercaya yang dapat dijadikan standar dalam pelayanan kesehatan. Informasi ini sudah digunakan dan dipercaya oleh banyak ahli, pemerintah, dan pembuat kebijakan besar. Cochrane global memiliki 38.000 anggota yang tersebar di 130 negara.
"Cochrane di Indonesia melalui proses panjang selama 14 tahun, baru akhirnya bisa ada di sini," ujar Detty Nurdiati, Direktur Cochrane Indonesia.
Hasil kajian Cochrane valid dan bisa diterapkan di belahan dunia manapun karena mereka mengulas sejumlah penelitian medis dari seluruh dunia secara melakukan komprehensif. Hasil penelitian sejenis, dikumpulkan dan diulang serta kembali dianalisis sehingga muncul satu kesimpulan baru.
"Jadi, tidak perlu akan kekhawatiran hasil penelitian medis di satu negara tidak bisa diterapkan di negara lain," ucapnya.
Detty menuturkan, Cochrane Indonesia baru diluncurkan sehingga proses temuan baru soal medis masih berjalan. Namun, sebagai orang yang berkecimpung bersama Cochrane sejak belasan tahun lalu, ia memiliki sejumlah hasil penelitian yang valid dan akan dimasukkan ke dalam Cochrane Indonesia.
Ia mencontohkan kematian ibu paling banyak karena preeklampsia dan pencegahannya dengan memberikan kalsium.
Ternyata, selama ini jumlah kalsium yang diberikan puskesmas kurang efektif karena hanya 500 miligram. Berdasarkan penelitian jumlah kalsium yang efektif 1.500 sampai 2.000 miligram. Dosis sebanyak itu mampu menurunkan kasus preeklampsia sampai 70 persen.
Salah satu kajian baru yang bisa dipertimbangkan untuk JKN yang efektif dan efisien adalah anemia. Anemia pada ibu hamil bisa mengakibatkan pendarahan. Selama ini zat besi diberikan setiap hari, tetapi ternyata pemberian zat besi per minggu lebih baik.








No comments:
Post a Comment